Kamis, 13 Maret 2008

Great Dad!


It's great dad! My son yells at over there.
Ngga tahu ia sedang menemukan apa, tetapi sepertinya dia exiting sekali.
Sekarang ia menginjak usia 2 tahun. Adaaa... saja tingkahnya.
Dia sudah mulai pintar excuse kalau sedang tidak mood.
Main bola dan bersepeda adalah kegemaran yang tidak bisa ia tinggalkan.
Bahkan sambil menyantap sarapan pun ia sambil berlarian menendang bola ke sana kemari.
Dia pun tak segan untuk berteriak, "Daaad,.... kick the ball over here, please!"
Kalo aku tak kunjung menendangnya, teriakan keduapun lebih menggema.
"Daad...! Are you listening to me? Kick the ball please."
Oh God! Some words through from his tiny mouth. Amazing!

Rabu, 05 Maret 2008

Gigolo Meter

Apa sih maksudnya? Ehem,... bukannya aku mau menjual diri.
Aku dapat ini dari sebuah link yang berisi kuis tentang sejauh apa sih "berharga"-nya dirimu?
It's sound like sebuah kemesuman... namun ini hanya main-main...
Dasar! ada-ada saja orang bikin kuis.
Namun coba deh iseng-iseng membayangkan dengan uang yang nilainya hampir 10 jeti, kira-kira ngapain aja ya...
Kerja sejam dapet 10 jeti? Manager paling TOP di Indonesia pun hanya beberapa gelintir yang bergaji 10 jeti perhari.
Ini cukup menjual diri dalam sejam dapet 10 jeti.
Masalahnya adalah, apakah kita mampu nelan uang haram segitu gedenya? Gak kebayang deh... n mending gak usah dibayangin...
Coba untuk mikir yang lebih penting aja deh...
Kalau mai iseng, coba deh ke sini :

http://hellarity.us/in-bed/

Minggu, 02 Maret 2008

Berlibur? Cari yang murah dulu...



Berlibur, pelesir, wisata kuliner, belanja oleh-oleh, beli souvenir, mungkin itu adalah kata-kata yang begitu menyenangkan untuk di dengar. Ya... berlibur! Ketika rasa penat dan kegerahan dengan ritual dan rutinitas pekerjaan, ada kalanya kita butuh waktu luang untuk sekedar merenggangkan ketegangan.
Bagi yang berkantong tebal, bisa ke Bali 2 hari atau sekalian nun jauh di sana, Tanah Toraja yang menyimpan eksotisme dan ragam budaya. Namun apakah yang tidak berkantong tebal tidak bisa berlibur? Ah,.. bisa saja asal mau sedikit "berkeringat" karena wisata kali ini bukan yang berkelas. tetapi khas gaya backpacker.
Taruh saja lokasi berlibur adalah Yogyakarta. Kota budaya dan pariwisata yang menyimpan sejuta keindahan dan eksotisme. Selalu saja ia menyimpan sebuah kejutan. Keramahan, keindahan, harga-harga yang tidak masuk akal (serasa hidup di masa lalu).
Lihat saja bagaimana pedagang Gudeg di jalan Wijilan menjual dagangannya dengan harga yang rasional. Bukan harga inflasi yang mencapai 20%. Satu porsi Gudeg lengkap yang dijual di Malioboro bisa mencapai 20ribu belum termasuk pajak, bisa ditebus 7.500 di Bu Slamet Wijilan. Semuanya masuk akal untuk ukuran kantong backpacker.
Backpacker banyak berkeliaran di Sarkem untuk menginap. Selain murah, Sarkem dikenal sangat liberal. Namun kalau ingin sedikit berbudaya, coba saja Limaran di Jl Suryotomo. Letaknya di ujung barat Malioboro. Ia lebih dekat dengan alun-alun tempat mangkal backpacker. Tarifnya pun masuk akal. mulai dari 50rb s/d 15orb (sudah termasuk AC, TV, KM air panas/dingin, breakfast dan tentu saja sudah termasuk pajak).
Nasi kucing? Ah, biasa aja... bisa didapatkan di segala angkringan di Malioboro waktu malam. Atau pagi-pagi buta sepanjang Malioboro banyak rombong (angkringan) yang menjajakannya. Harganya? Kalau yang ini kurang masuk akal. Sebungkus nasi sekepal dengan lauk sambel bawang, kering tempe, sejumput mi hanya 500 atau paling mahal 1000.
Ah,... Yogya. Tetap saja ada yang masuk akal dan tidak.
Meski dalam setahun bisa 3 kali ke sana, tak pernah bosan untuk mengunjungimu.