Minggu, 02 Maret 2008

Berlibur? Cari yang murah dulu...



Berlibur, pelesir, wisata kuliner, belanja oleh-oleh, beli souvenir, mungkin itu adalah kata-kata yang begitu menyenangkan untuk di dengar. Ya... berlibur! Ketika rasa penat dan kegerahan dengan ritual dan rutinitas pekerjaan, ada kalanya kita butuh waktu luang untuk sekedar merenggangkan ketegangan.
Bagi yang berkantong tebal, bisa ke Bali 2 hari atau sekalian nun jauh di sana, Tanah Toraja yang menyimpan eksotisme dan ragam budaya. Namun apakah yang tidak berkantong tebal tidak bisa berlibur? Ah,.. bisa saja asal mau sedikit "berkeringat" karena wisata kali ini bukan yang berkelas. tetapi khas gaya backpacker.
Taruh saja lokasi berlibur adalah Yogyakarta. Kota budaya dan pariwisata yang menyimpan sejuta keindahan dan eksotisme. Selalu saja ia menyimpan sebuah kejutan. Keramahan, keindahan, harga-harga yang tidak masuk akal (serasa hidup di masa lalu).
Lihat saja bagaimana pedagang Gudeg di jalan Wijilan menjual dagangannya dengan harga yang rasional. Bukan harga inflasi yang mencapai 20%. Satu porsi Gudeg lengkap yang dijual di Malioboro bisa mencapai 20ribu belum termasuk pajak, bisa ditebus 7.500 di Bu Slamet Wijilan. Semuanya masuk akal untuk ukuran kantong backpacker.
Backpacker banyak berkeliaran di Sarkem untuk menginap. Selain murah, Sarkem dikenal sangat liberal. Namun kalau ingin sedikit berbudaya, coba saja Limaran di Jl Suryotomo. Letaknya di ujung barat Malioboro. Ia lebih dekat dengan alun-alun tempat mangkal backpacker. Tarifnya pun masuk akal. mulai dari 50rb s/d 15orb (sudah termasuk AC, TV, KM air panas/dingin, breakfast dan tentu saja sudah termasuk pajak).
Nasi kucing? Ah, biasa aja... bisa didapatkan di segala angkringan di Malioboro waktu malam. Atau pagi-pagi buta sepanjang Malioboro banyak rombong (angkringan) yang menjajakannya. Harganya? Kalau yang ini kurang masuk akal. Sebungkus nasi sekepal dengan lauk sambel bawang, kering tempe, sejumput mi hanya 500 atau paling mahal 1000.
Ah,... Yogya. Tetap saja ada yang masuk akal dan tidak.
Meski dalam setahun bisa 3 kali ke sana, tak pernah bosan untuk mengunjungimu.

Tidak ada komentar: