Rabu, 27 Februari 2008

Mesin Produksi Itu Benama Karyawan

Komunisme telah bangkrut di negerinya sendiri lebih dari 15 tahun lalu. Symbol perang dingin antara barat dan timur (kapitalis dan komunis) bahkan telah runtuh duluan tahun 1989 dengan dibukanya tembok Berlin. Komunisme pun kini seakan telah berevolusi menjadi ideology baru.

-----------------

Komunisme Sebagai Ideologi

Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.

Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati.

Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme.

Seperti halnya Negara-negara komunis lainnya, pemerintah berkuasa penuh mengatur segala sendi kehidupan masyarakat. Mulai dari BBM sampai dengan roti untuk sarapan warga negaranya menjadi urusan pemerintah. Tidak satupun warga negaranya diberi hak untuk mengelola modalnya untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan bumi yang dia pijak pun milik pemerintah yang sewaktu-waktu jika pemerintah menginginkannya, ia harus pindah.

Bahkan ada anekdot bahwa di Negara-negara yang masih menganut paham komunis murni sampai harus repot mengatur warga negaranya tertawa. Ada peraturan perundangan yang mengatur kapan warga negaranya boleh atau tidak boleh tertawa.

Komunisme yang Ber-Evolusi

Tiongkok sebagai Negara penganut paham komunis boleh jadi dianggap sebagai kekuatan terbesar komunis yang masih ada saat ini. Tetapi benarkah? Negara ini diperintah oleh partai komunis yang jumlah angotanya tidak lebih dari 80 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk Tiongkok yang sudah mencapai 1,3 miliar. 80 juta bukan angka yang sepadan dan signifikan bila dibandingkan dengan total jumlah penduduk Tiongkok. Apa artinya ini? Bahwa komunis itu adalah pemerintah dan system politiknya. Warga negaranya, umumnya sudah mulai ber-Tuhan. Tetapi yang berkembang di Tiongkok adalah adanya pembedaan antara ber-Tuhan dan beragama. Apakah Cuma itu? Ternyata tidak. Tiongkok telah menjelma menjadi kekuatan baru. Ia sekarang berkawan dengan kapitalis yang dulu menjadi musuh besarnya. Ia berkembang menjadi “neo-komunis” atau komunis baru yang lebih “manusiawi” dan liberal. Investor asing pun mulai berlomba untuk membenamkan modalnya ke negeri yang dulu berjuluk Tirai Bambu. Penghargaan terhadap hak asasi manusia dimulai dengan dibukanya keran investasi yang menandakan individu diberi hak untuk memupuk modal.

Pemerintah Tiongkok tidak suka menekankan kesamarataan saat mulai membangun ekonominya, sebaliknya pemerintah menekankan peningkatan pendapatan pribadi dan konsumsi dan memperkenalkan sistem manajemen baru untuk meningkatkan produktivitas. Pemerintah juga memfokuskan diri dalam perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi, untuk itu mereka mendirikan lebih dari 2000 Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones, SEZ) di mana hukum investasi direnggangkan untuk menarik modal asing. Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi 1,25 milyar orang dan PDB hanya $3.800 per kapita, Tiongkok menjadi ekonomi keenam terbesar di dunia dari segi nilai tukar dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam daya beli. Pendapatan tahunan rata-rata pekerja Tiongkok adalah $1.300. Perkembangan ekonomi Tiongkok diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Tiongkok. Ini menjadikan Tiongkok sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang mengkritik Tiongkok, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Tiongkok sejak tanggal 1 Januari 2002 telah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia.

Budaya Yang Sudah Tidak Jaman

Duapuluh atau tigapuluh tahun yang lalu, boleh jadi komunisme masih menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Namun ia kemudian runtuh di negeri asalnya sendiri dan diikuti oleh Negara-negara di sekitarnya. Negara penganut paham komunis dikenal dengan pemberdayaan seluruh lapisan masyarakat demi kemakmuran bersama. Warganegara dianggap tidak lebih dari alat atau mesin produksi di pabrik-pabrik. Ia terus “diperas” tenaganya demi kemakmuran negeri. Sementara kebutuhan hidup warga negaranya ditanggung sepenuhnya oleh Negara. Warga Negara tidak perlu pusing memikirkan hak-hak mereka karena hak-hak mereka pun toh tidak diakui. Namun selama sekian dasawarsa, ideologi terbukti tidaklah manjur untuk mengenyangkan rakyat. Bahkan seorang Deng Xiaoping pun harus meninggalkan ideologi ini ketika ia menapaki tempat tertinggi PKC pada 1979. Deng meninggalkan komunisme dengan mengumumkan revolusi baru. Baginya ideologi sudah tidak berarti. Komunisme hanya membawa Negara ini masuk ke jurang budaya korup yang sudah mengakar. Deng juga telah sadar bahwa hanya kapitalisme yang bisa mensejahterakan rakyat. Rusia yang dikenal biang komunis pun sekarang menjelma menjadi Negara liberal dengan presiden pertama Boris Yeltsin yang notabene komunis tulen.

Rakyat pun tidak lagi menjadi obyek yang mutlak. Rakyat pun ikut berperan untuk memakmurkan negeri. Kebebasan memupuk modal pun dibuka meski masih dengan pengawasan ketat pemerintah.

“Roh” Komunisme Justru Tumbuh Di Luar Lingkaran

Seperti budaya komunis pada umumnya, rakyat hanya sebagai objek yang tak lebih dari mesin produksi. Malangnya budaya ini justru tanpa sadar telah diadopsi oleh beberapa perusahaan kaum kapitalis. Ada pergeseran nilai dan budaya yang jungkirbalik. Kapitalisme telah menjelma menjadi budaya arogan milik komunis yang konservatif demi melanggengkan kedigdayaan ekonominya dengan segala cara. Bahkan ia tanpa malu-malu harus mengebiri hak karyawan demi keuntungan yang semakin besar. Karyawan dan buruh pabrik hanya dijadikan sapi perahan pemilik modal. Demokrasi yang dijunjung tinggi dan diperkenalkan mereka sebagai peradaban tinggi, kini tak lebih dari wacana buku sejarah tua di museum. Ketika komunisme telah runtuh dan berevolusi menjadi semangat baru di timur, di belahan bumi lain justru kapitalisme kini telah menjelma menjadi komunisme klasik yang sudah ditinggalkan di Negara asalnya.

Ketika buruh dan karyawan dipandang hanya sebatas mesin produksi, maka pemodal tak ubahnya seperti komunis tulen. Bukankah ini kemunduran peradaban kaum kapitalis yang konon amatlah tinggi?

Tidak ada komentar: