Senin, 14 April 2008

Berlarian



Ini dia lagi berlarian ingin merebut kamera.
Ehem,.... dasar usil...

Kamis, 13 Maret 2008

Great Dad!


It's great dad! My son yells at over there.
Ngga tahu ia sedang menemukan apa, tetapi sepertinya dia exiting sekali.
Sekarang ia menginjak usia 2 tahun. Adaaa... saja tingkahnya.
Dia sudah mulai pintar excuse kalau sedang tidak mood.
Main bola dan bersepeda adalah kegemaran yang tidak bisa ia tinggalkan.
Bahkan sambil menyantap sarapan pun ia sambil berlarian menendang bola ke sana kemari.
Dia pun tak segan untuk berteriak, "Daaad,.... kick the ball over here, please!"
Kalo aku tak kunjung menendangnya, teriakan keduapun lebih menggema.
"Daad...! Are you listening to me? Kick the ball please."
Oh God! Some words through from his tiny mouth. Amazing!

Rabu, 05 Maret 2008

Gigolo Meter

Apa sih maksudnya? Ehem,... bukannya aku mau menjual diri.
Aku dapat ini dari sebuah link yang berisi kuis tentang sejauh apa sih "berharga"-nya dirimu?
It's sound like sebuah kemesuman... namun ini hanya main-main...
Dasar! ada-ada saja orang bikin kuis.
Namun coba deh iseng-iseng membayangkan dengan uang yang nilainya hampir 10 jeti, kira-kira ngapain aja ya...
Kerja sejam dapet 10 jeti? Manager paling TOP di Indonesia pun hanya beberapa gelintir yang bergaji 10 jeti perhari.
Ini cukup menjual diri dalam sejam dapet 10 jeti.
Masalahnya adalah, apakah kita mampu nelan uang haram segitu gedenya? Gak kebayang deh... n mending gak usah dibayangin...
Coba untuk mikir yang lebih penting aja deh...
Kalau mai iseng, coba deh ke sini :

http://hellarity.us/in-bed/

Minggu, 02 Maret 2008

Berlibur? Cari yang murah dulu...



Berlibur, pelesir, wisata kuliner, belanja oleh-oleh, beli souvenir, mungkin itu adalah kata-kata yang begitu menyenangkan untuk di dengar. Ya... berlibur! Ketika rasa penat dan kegerahan dengan ritual dan rutinitas pekerjaan, ada kalanya kita butuh waktu luang untuk sekedar merenggangkan ketegangan.
Bagi yang berkantong tebal, bisa ke Bali 2 hari atau sekalian nun jauh di sana, Tanah Toraja yang menyimpan eksotisme dan ragam budaya. Namun apakah yang tidak berkantong tebal tidak bisa berlibur? Ah,.. bisa saja asal mau sedikit "berkeringat" karena wisata kali ini bukan yang berkelas. tetapi khas gaya backpacker.
Taruh saja lokasi berlibur adalah Yogyakarta. Kota budaya dan pariwisata yang menyimpan sejuta keindahan dan eksotisme. Selalu saja ia menyimpan sebuah kejutan. Keramahan, keindahan, harga-harga yang tidak masuk akal (serasa hidup di masa lalu).
Lihat saja bagaimana pedagang Gudeg di jalan Wijilan menjual dagangannya dengan harga yang rasional. Bukan harga inflasi yang mencapai 20%. Satu porsi Gudeg lengkap yang dijual di Malioboro bisa mencapai 20ribu belum termasuk pajak, bisa ditebus 7.500 di Bu Slamet Wijilan. Semuanya masuk akal untuk ukuran kantong backpacker.
Backpacker banyak berkeliaran di Sarkem untuk menginap. Selain murah, Sarkem dikenal sangat liberal. Namun kalau ingin sedikit berbudaya, coba saja Limaran di Jl Suryotomo. Letaknya di ujung barat Malioboro. Ia lebih dekat dengan alun-alun tempat mangkal backpacker. Tarifnya pun masuk akal. mulai dari 50rb s/d 15orb (sudah termasuk AC, TV, KM air panas/dingin, breakfast dan tentu saja sudah termasuk pajak).
Nasi kucing? Ah, biasa aja... bisa didapatkan di segala angkringan di Malioboro waktu malam. Atau pagi-pagi buta sepanjang Malioboro banyak rombong (angkringan) yang menjajakannya. Harganya? Kalau yang ini kurang masuk akal. Sebungkus nasi sekepal dengan lauk sambel bawang, kering tempe, sejumput mi hanya 500 atau paling mahal 1000.
Ah,... Yogya. Tetap saja ada yang masuk akal dan tidak.
Meski dalam setahun bisa 3 kali ke sana, tak pernah bosan untuk mengunjungimu.

Kamis, 28 Februari 2008

Mesin Produksi Itu Benama Karyawan

Komunisme telah bangkrut di negerinya sendiri lebih dari 15 tahun lalu. Symbol perang dingin antara barat dan timur (kapitalis dan komunis) bahkan telah runtuh duluan tahun 1989 dengan dibukanya tembok Berlin. Komunisme pun kini seakan telah berevolusi menjadi ideology baru.

-----------------

Komunisme Sebagai Ideologi

Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.

Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati.

Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme.

Seperti halnya Negara-negara komunis lainnya, pemerintah berkuasa penuh mengatur segala sendi kehidupan masyarakat. Mulai dari BBM sampai dengan roti untuk sarapan warga negaranya menjadi urusan pemerintah. Tidak satupun warga negaranya diberi hak untuk mengelola modalnya untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan bumi yang dia pijak pun milik pemerintah yang sewaktu-waktu jika pemerintah menginginkannya, ia harus pindah.

Bahkan ada anekdot bahwa di Negara-negara yang masih menganut paham komunis murni sampai harus repot mengatur warga negaranya tertawa. Ada peraturan perundangan yang mengatur kapan warga negaranya boleh atau tidak boleh tertawa.

Komunisme yang Ber-Evolusi

Tiongkok sebagai Negara penganut paham komunis boleh jadi dianggap sebagai kekuatan terbesar komunis yang masih ada saat ini. Tetapi benarkah? Negara ini diperintah oleh partai komunis yang jumlah angotanya tidak lebih dari 80 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk Tiongkok yang sudah mencapai 1,3 miliar. 80 juta bukan angka yang sepadan dan signifikan bila dibandingkan dengan total jumlah penduduk Tiongkok. Apa artinya ini? Bahwa komunis itu adalah pemerintah dan system politiknya. Warga negaranya, umumnya sudah mulai ber-Tuhan. Tetapi yang berkembang di Tiongkok adalah adanya pembedaan antara ber-Tuhan dan beragama. Apakah Cuma itu? Ternyata tidak. Tiongkok telah menjelma menjadi kekuatan baru. Ia sekarang berkawan dengan kapitalis yang dulu menjadi musuh besarnya. Ia berkembang menjadi “neo-komunis” atau komunis baru yang lebih “manusiawi” dan liberal. Investor asing pun mulai berlomba untuk membenamkan modalnya ke negeri yang dulu berjuluk Tirai Bambu. Penghargaan terhadap hak asasi manusia dimulai dengan dibukanya keran investasi yang menandakan individu diberi hak untuk memupuk modal.

Pemerintah Tiongkok tidak suka menekankan kesamarataan saat mulai membangun ekonominya, sebaliknya pemerintah menekankan peningkatan pendapatan pribadi dan konsumsi dan memperkenalkan sistem manajemen baru untuk meningkatkan produktivitas. Pemerintah juga memfokuskan diri dalam perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi, untuk itu mereka mendirikan lebih dari 2000 Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones, SEZ) di mana hukum investasi direnggangkan untuk menarik modal asing. Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi 1,25 milyar orang dan PDB hanya $3.800 per kapita, Tiongkok menjadi ekonomi keenam terbesar di dunia dari segi nilai tukar dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam daya beli. Pendapatan tahunan rata-rata pekerja Tiongkok adalah $1.300. Perkembangan ekonomi Tiongkok diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Tiongkok. Ini menjadikan Tiongkok sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang mengkritik Tiongkok, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Tiongkok sejak tanggal 1 Januari 2002 telah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia.

Budaya Yang Sudah Tidak Jaman

Duapuluh atau tigapuluh tahun yang lalu, boleh jadi komunisme masih menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Namun ia kemudian runtuh di negeri asalnya sendiri dan diikuti oleh Negara-negara di sekitarnya. Negara penganut paham komunis dikenal dengan pemberdayaan seluruh lapisan masyarakat demi kemakmuran bersama. Warganegara dianggap tidak lebih dari alat atau mesin produksi di pabrik-pabrik. Ia terus “diperas” tenaganya demi kemakmuran negeri. Sementara kebutuhan hidup warga negaranya ditanggung sepenuhnya oleh Negara. Warga Negara tidak perlu pusing memikirkan hak-hak mereka karena hak-hak mereka pun toh tidak diakui. Namun selama sekian dasawarsa, ideologi terbukti tidaklah manjur untuk mengenyangkan rakyat. Bahkan seorang Deng Xiaoping pun harus meninggalkan ideologi ini ketika ia menapaki tempat tertinggi PKC pada 1979. Deng meninggalkan komunisme dengan mengumumkan revolusi baru. Baginya ideologi sudah tidak berarti. Komunisme hanya membawa Negara ini masuk ke jurang budaya korup yang sudah mengakar. Deng juga telah sadar bahwa hanya kapitalisme yang bisa mensejahterakan rakyat. Rusia yang dikenal biang komunis pun sekarang menjelma menjadi Negara liberal dengan presiden pertama Boris Yeltsin yang notabene komunis tulen.

Rakyat pun tidak lagi menjadi obyek yang mutlak. Rakyat pun ikut berperan untuk memakmurkan negeri. Kebebasan memupuk modal pun dibuka meski masih dengan pengawasan ketat pemerintah.

“Roh” Komunisme Justru Tumbuh Di Luar Lingkaran

Seperti budaya komunis pada umumnya, rakyat hanya sebagai objek yang tak lebih dari mesin produksi. Malangnya budaya ini justru tanpa sadar telah diadopsi oleh beberapa perusahaan kaum kapitalis. Ada pergeseran nilai dan budaya yang jungkirbalik. Kapitalisme telah menjelma menjadi budaya arogan milik komunis yang konservatif demi melanggengkan kedigdayaan ekonominya dengan segala cara. Bahkan ia tanpa malu-malu harus mengebiri hak karyawan demi keuntungan yang semakin besar. Karyawan dan buruh pabrik hanya dijadikan sapi perahan pemilik modal. Demokrasi yang dijunjung tinggi dan diperkenalkan mereka sebagai peradaban tinggi, kini tak lebih dari wacana buku sejarah tua di museum. Ketika komunisme telah runtuh dan berevolusi menjadi semangat baru di timur, di belahan bumi lain justru kapitalisme kini telah menjelma menjadi komunisme klasik yang sudah ditinggalkan di Negara asalnya.

Ketika buruh dan karyawan dipandang hanya sebatas mesin produksi, maka pemodal tak ubahnya seperti komunis tulen. Bukankah ini kemunduran peradaban kaum kapitalis yang konon amatlah tinggi?

Kontras TInggi


Ada satu pose yang menurut gw menarik... dengan tema kontras tinggi... gw suruh dia berbaring di atas box model dengan balutan kain merah yang menyala. Background diganti dengan warna putih untuk menegaskan kesan kontras. Karena si model bukan tipe-tipe berkulit putih, maka klop sudah deh... background putih dengan model yang cenderung item manis dan balutan kain merah...
Hasilnya lumayan ciamik...

Belajar Studio


Belajar meng-explore kemampuan di studio butuh kesabaran. Apalagi model yang dibawa masih amatiran. Duuhhh,... setengah mati gw ngarahin. Untungnya ada sang master yang mendampingin gw buat ngarahin tuh model...
Untungnya pula tuh model ngga rewel kalo disuruh-suruh berbagai pose. Mulai berdiri, tengkurap sampai berguling-guling... Kooperatif banget deh...
Thanks dear...

Foto ini diambil menggunakan kamera D50 dan nikkor 18 - 55.
Pencahayaan menggunakan tiga buah lampu studio (spot) dari samping kiri. Softbox diletakkan di samping kanan model dengan jarak tak lebih dari dua meter. Pemicu menggunakan triger yang dipasang pada hotshoe D50. Shutter ditekan, tes.... dalam hitungan sepersekian detik lampu menyala lap....!!!
Ehem,... modelnya itu lho... biarpun amatiran boleh juga aksinya...

Rabu, 27 Februari 2008

Mesin Produksi Itu Benama Karyawan

Komunisme telah bangkrut di negerinya sendiri lebih dari 15 tahun lalu. Symbol perang dingin antara barat dan timur (kapitalis dan komunis) bahkan telah runtuh duluan tahun 1989 dengan dibukanya tembok Berlin. Komunisme pun kini seakan telah berevolusi menjadi ideology baru.

-----------------

Komunisme Sebagai Ideologi

Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.

Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati.

Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme.

Seperti halnya Negara-negara komunis lainnya, pemerintah berkuasa penuh mengatur segala sendi kehidupan masyarakat. Mulai dari BBM sampai dengan roti untuk sarapan warga negaranya menjadi urusan pemerintah. Tidak satupun warga negaranya diberi hak untuk mengelola modalnya untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan bumi yang dia pijak pun milik pemerintah yang sewaktu-waktu jika pemerintah menginginkannya, ia harus pindah.

Bahkan ada anekdot bahwa di Negara-negara yang masih menganut paham komunis murni sampai harus repot mengatur warga negaranya tertawa. Ada peraturan perundangan yang mengatur kapan warga negaranya boleh atau tidak boleh tertawa.

Komunisme yang Ber-Evolusi

Tiongkok sebagai Negara penganut paham komunis boleh jadi dianggap sebagai kekuatan terbesar komunis yang masih ada saat ini. Tetapi benarkah? Negara ini diperintah oleh partai komunis yang jumlah angotanya tidak lebih dari 80 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk Tiongkok yang sudah mencapai 1,3 miliar. 80 juta bukan angka yang sepadan dan signifikan bila dibandingkan dengan total jumlah penduduk Tiongkok. Apa artinya ini? Bahwa komunis itu adalah pemerintah dan system politiknya. Warga negaranya, umumnya sudah mulai ber-Tuhan. Tetapi yang berkembang di Tiongkok adalah adanya pembedaan antara ber-Tuhan dan beragama. Apakah Cuma itu? Ternyata tidak. Tiongkok telah menjelma menjadi kekuatan baru. Ia sekarang berkawan dengan kapitalis yang dulu menjadi musuh besarnya. Ia berkembang menjadi “neo-komunis” atau komunis baru yang lebih “manusiawi” dan liberal. Investor asing pun mulai berlomba untuk membenamkan modalnya ke negeri yang dulu berjuluk Tirai Bambu. Penghargaan terhadap hak asasi manusia dimulai dengan dibukanya keran investasi yang menandakan individu diberi hak untuk memupuk modal.

Pemerintah Tiongkok tidak suka menekankan kesamarataan saat mulai membangun ekonominya, sebaliknya pemerintah menekankan peningkatan pendapatan pribadi dan konsumsi dan memperkenalkan sistem manajemen baru untuk meningkatkan produktivitas. Pemerintah juga memfokuskan diri dalam perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi, untuk itu mereka mendirikan lebih dari 2000 Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones, SEZ) di mana hukum investasi direnggangkan untuk menarik modal asing. Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi 1,25 milyar orang dan PDB hanya $3.800 per kapita, Tiongkok menjadi ekonomi keenam terbesar di dunia dari segi nilai tukar dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam daya beli. Pendapatan tahunan rata-rata pekerja Tiongkok adalah $1.300. Perkembangan ekonomi Tiongkok diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Tiongkok. Ini menjadikan Tiongkok sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang mengkritik Tiongkok, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Tiongkok sejak tanggal 1 Januari 2002 telah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia.

Budaya Yang Sudah Tidak Jaman

Duapuluh atau tigapuluh tahun yang lalu, boleh jadi komunisme masih menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Namun ia kemudian runtuh di negeri asalnya sendiri dan diikuti oleh Negara-negara di sekitarnya. Negara penganut paham komunis dikenal dengan pemberdayaan seluruh lapisan masyarakat demi kemakmuran bersama. Warganegara dianggap tidak lebih dari alat atau mesin produksi di pabrik-pabrik. Ia terus “diperas” tenaganya demi kemakmuran negeri. Sementara kebutuhan hidup warga negaranya ditanggung sepenuhnya oleh Negara. Warga Negara tidak perlu pusing memikirkan hak-hak mereka karena hak-hak mereka pun toh tidak diakui. Namun selama sekian dasawarsa, ideologi terbukti tidaklah manjur untuk mengenyangkan rakyat. Bahkan seorang Deng Xiaoping pun harus meninggalkan ideologi ini ketika ia menapaki tempat tertinggi PKC pada 1979. Deng meninggalkan komunisme dengan mengumumkan revolusi baru. Baginya ideologi sudah tidak berarti. Komunisme hanya membawa Negara ini masuk ke jurang budaya korup yang sudah mengakar. Deng juga telah sadar bahwa hanya kapitalisme yang bisa mensejahterakan rakyat. Rusia yang dikenal biang komunis pun sekarang menjelma menjadi Negara liberal dengan presiden pertama Boris Yeltsin yang notabene komunis tulen.

Rakyat pun tidak lagi menjadi obyek yang mutlak. Rakyat pun ikut berperan untuk memakmurkan negeri. Kebebasan memupuk modal pun dibuka meski masih dengan pengawasan ketat pemerintah.

“Roh” Komunisme Justru Tumbuh Di Luar Lingkaran

Seperti budaya komunis pada umumnya, rakyat hanya sebagai objek yang tak lebih dari mesin produksi. Malangnya budaya ini justru tanpa sadar telah diadopsi oleh beberapa perusahaan kaum kapitalis. Ada pergeseran nilai dan budaya yang jungkirbalik. Kapitalisme telah menjelma menjadi budaya arogan milik komunis yang konservatif demi melanggengkan kedigdayaan ekonominya dengan segala cara. Bahkan ia tanpa malu-malu harus mengebiri hak karyawan demi keuntungan yang semakin besar. Karyawan dan buruh pabrik hanya dijadikan sapi perahan pemilik modal. Demokrasi yang dijunjung tinggi dan diperkenalkan mereka sebagai peradaban tinggi, kini tak lebih dari wacana buku sejarah tua di museum. Ketika komunisme telah runtuh dan berevolusi menjadi semangat baru di timur, di belahan bumi lain justru kapitalisme kini telah menjelma menjadi komunisme klasik yang sudah ditinggalkan di Negara asalnya.

Ketika buruh dan karyawan dipandang hanya sebatas mesin produksi, maka pemodal tak ubahnya seperti komunis tulen. Bukankah ini kemunduran peradaban kaum kapitalis yang konon amatlah tinggi?

Suap KY, Negeri Ini Ibarat Negeri Pelacur

Apa jadinya bila sebuah negeri berisi barisan pelacur yang mejajakan diri memberi kepuasan seksual pelanggannya demi sejumlah uang. Aturan main yang ada di negeri itu pun hanya berdasar lembaran uang bukan lagi norma hukum.

--------------------

Pengertian pelacur secara harfiah adalah seseorang yang menjual jasanya untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggannya, biasanya dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Pelacuran sering dianggap sebagai hal negatif bahkan sampah masyarakat. Di sisi lain dari kacamata sosio budaya, pelacuran toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan bahwa pelacuran bisa menyalurkan insting seksual pihak yang membutuhkan. Tanpa penyaluran yang benar dikhawatirkan pelanggannya justru akan menyalurkan isting seksualnya dengan jalan menyerang atau memperkosa wanita baik-baik.

Penganut pandangan seperti ini adalah Agustinus Hippo (354 – 430M) seorang bapak gereja. Pendapatnya yang terkenal adalah bahwa pelacuran itu ibarat selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.

Evolusi “Pelacuran” di Negeri ini

Terlepas dari pro dan kontra, pelacuran dan melacurkan diri tidak pernah bisa dihapuskan dari negeri manapun. Hanya saja hendaknya pelacuran bisa ditekan sehingga tidak merupakan budaya yang vulgar. Tetapi pelacuran yang terjadi di negeri ini tidak saja terbatas pada masalah pemuasan nafsu syahwat. Pelacuran di negeri ini telah berevolusi menjadi pelacuran yang menjajakan harga diri, jabatan, kebebesan, bahkan sampai dengan perkara pengadilan demi sejumlah uang. Pelacur-pelacur model baru ini pun tidak lagi berada di lokalisasi yang kumuh, warung remang-remang, wisma-wisma dugem. Mereka punya kantor mentereng, kendaraan dinas mangkilap, berpakaian merek terkenal, setelan jas mahal, bergaji tetap puluhan juta sebulan. Apa yang kurang dari mereka? Apa pula yang sebenarnya mereka jual?

Dari segi materi dan sosio-ekonomi mereka adalah orang-orang yang tidak kekurangan. Namun demi keegoan dan pemuasan diri terhadap kekayaan, mereka rela melacurkan diri. Sementara jasa pemuasan “syahwat” yang paling laku saat ini adalah perkara. Di negeri ini, apapun bisa diperjualbelikan. Seorang jaksa memperjualbelikan perkara bukan hal yang aneh di negeri ini. Hakim menerima imbalan atas perkara yang diputuskan adalah sesuatu yang jamak dilakukan. Bukan rahasia lagi bahwa mafia peradilan ada di seluruh pelosok negeri ini. Penjualan “syahwat” ini juga menyangkut pasal apa yang akan dikenakan. Kalau perlu yang seringan-ringannya. Semakin mahal pelanggan membayar, semakin aduhai pula “pelacur” yang bisa didapatkan. Hukum, kebenaran dan keadilan pun hanya sebatas dan tergantung pada angka-angka lembaran uang. Semakin banyak lembaran uang yang dijajakan, semakin banyak pula “pelacur” yang didapatkan.

Aparat Tidak Berdaya, Legitimasi Hukum dipertanyakan

Dalam Ilmu Politik, legitimasi diartikan seberapa jauh masyarakat mau menerima dan mengakui kewenangan, keputusan atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin. Dalam dunia hukum, masyarakat akan menilai seberapa ampuhnya produk hukum ini bisa melindungi, mengayomi dan mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat. Sejauh mana masyarakat akan percaya terhadap keadilan yang diperoleh mempengaruhi kuat tidaknya legitimasi itu sendiri.

Maraknya penjualan perkara, penyuapan terhadap penegak hukum mulai dari jaksa, hakim sampai dengan pemantau keadilan merupakan potret hitam peradilan di negeri ini. Yang lebih hebat lagi adalah oknum-oknum yang “melacurkan” diri itu nyaris tanpa bisa tersentuh hukum. Kasus yang menimpa salah seorang anggota KY, Irawady Joenoes yang ditangkap KPK dengan dugaan menerima suap Rp 600 juta dan USD 30 ribu dari Direktur PT Persada Sembada Freddy Santoso beberapa waktu lalu menambah panjang daftar pejabat yang “melacurkan” diri. Uang segunung tersebut diduga sebagai ungkapan terima kasih atas pembelian tanah milik Freddy seluas 5.720 meter persegi di Kramat Raya, Jakarta Pusat. Ini adalah tamparang keras bagi KY yang diharapkan bisa memperbaiki citra buruk para hakim yang terlibat suap. Namun apa lacur, anggota KY sendiri malah terlibat kasus penyuapan

Bahkan sidang kasus penyuapan yang melibatkan bos MA beberapa bulan yang lalu pun terlunta-lunta karena para jaksa dan hakim ini tidak mampu menghadirkan bos mereka ke pengadilan, meski hanya sebagai saksi. Carut marutnya peradilan di negeri ini merupakan cerminan kebusukan sistem dan orang yang ada di dalamnya. Layaknya penyakit kanker, mental pelacur yang menghinggapi para penegak keadilan ini susah sekali disembuhkan. Karena ini menyangkut sebuah hubungan sama-sama menguntungkan layaknya simbiosis mutualisme. Para “pelacur” ini puas mendapatkan materi sementara pelanggan berharap memuaskan “syahwat” keringanan atau kebebesan hukumannya.

Ketidakberdayaan aparat penegak hukum menyeret “pelacur-pelacur” ini menunjukkan betapa kuat pengaruhnya. Lihat saja oknum yang menjadi pelaku-pelakunya biasanya memang orang-orang yang sedang berkuasa. Atau paling tidak mereka sedang menduduki jabatan penting di lingkaran penegak keadilan itu sendiri. Ibarat lingkaran setan, kita tidak akan pernah menemukan ujung pangkalnya. Hukum perundang-undangan akhirnya hanya menjadi hiasan di rak-rak perpustakaan, meja mewah hakim dan jaksa. Ia hanya menjadi icon tanpa mempunyai legitimasi. Karena orang yang seharusnya bertugas menegakkan legitimasi itu sendiri telah menginjak-injaknya tanpa merasa berdosa.

Lingkaran Setan dalam Dunia “Pelacuran”

Memberantas KKN di negeri ini ibarat hanya pepesan kosong. Korupsi seakan tidak pernah ada habisnya. Menyedihkannya, korupsi bukan lagi makanan atau trend pejabat eksekutif namun sudah merambah kepada orang-orang yang mengaku pejuang keadilan. Modus yang dipakai masih sama, jual beli perkara dan suap. Jangan heran bila perkara korupsi bisa sampai bertahun-tahun tuntasnya. Pelakunya pun nyaris tak tersentuh hukum. Kalaupun toh diperiksa, pelaku sudah bisa memilih mau dihukum dengan cara apa, berapa lama dan di mana. Permasalahan pun semakin komplek, karena biasanya melibatkan banyak pihak. Apalagi kasus itu melibatkan orang-orang kelas kakap. Bisa ditebak oknum yang melacurkan diri pun akan semakin banyak. Tariff yang tinggi dengan iming-iming yang menggiurkan akan menarik siapa saja yang sedang tersandung masalah sensitive ini.

Ah, uang bukan masalah bagi orang kelas kakap. Asal ia bisa memuaskan diri, memuaskan ego dan syahwat kebebasan dirinya berapapun akan dibayarkan. Tidak seperti sekawanan lelaki hidung belang setelah memuaskan syahwat, kemudian ia akan membayar sejumlah uang sesuai kesepakatan. Evolusi modus “pelacuran” seperti ini, pelanggan harus membayarkan sejumlah uang, baru mendapatkan “pelayanan”. Efek negativenya adalah bila ekspetasi pelanggan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan “pelayanan” bisa menimbulkan masalah besar. Karena hal ini bisa menyeret mereka pada lubang masalah pelacuran yang bisa disaksikan oleh seluruh penduduk negeri. Efeknya pun sama seperti penyakit kelamin yang bisa saja menghinggapi orang-orang yang berada di lingkaran tersebut dan terlibat di dalamnya.

Tetapi bangsa negeri ini tidak pernah mau belajar dari pengalaman. Bagi mereka apapun tindakan yang dilakukan pasti membawa konsekuensi logis yang harus dibayarkan. Semahal apapun akan ditanggung demi kepuasan sesaat. Namum efek yang ditimbulkan seperti penyakit kelamin yang mampu menyebar dalam hidungan detik.

Senin, 04 Februari 2008

Berziarah ke Makam


Baru kali ini gw ke makam Proklamator...
Ehem,... ternyata wujudnya seperti ini. Dibangun dengan lebih wah...
Setiap hari adaaa aja yang berziarah... sampai-sampai pusara itupun penuh dengan bunga.
Bahkan ada petugas khusus yang harus membersihkan bunga-bunga itu.
Ah,... orang besar. Biarpun udah mati masih aja mennyimpan karisma.
Petanyaanya adalah, kira-kira seperti apaan ya pusaranya D.N Aidit?
Konon orang besar juga, cuma dalam sejarah dia dikenal sebagai musuh besar...
hahaha...
Gambar disamping adalah lorong menuju makam Soekarno (Proklamator RI)